Di hadapan meja hampa dan gelas-gelas kaca
Ada rindu yang tumpah ruah
Meluber menggenangi sepasang retina
Dimana mata menjadi sanggup bicara
dan bibir tak sanggup berkata
Satu-persatu rindu runtuh dihadapmu
Serupa sayap tumbuh di punggungku
Ringan.. terbang..
dan mendarat tepat pada korneamu
-PalupiLaras-
Saat menulis ini aku sedang duduk sembari menikmati segelas susu sereal pengganjal perut yang ku pikir tidak akan membuatku semakin gendut. Aku menyarankanmu untuk duduk dengan tenang dan minumlah segelas es teh atau es jeruk agar sedikit meredam panasnya cuaca saat membaca ceritaku ini.
Saat ku tulis ini aku telah menemukan seorang lelaki idamanku, dia sama sepertiku sedikit kaku, tak banyak bicara dan keras kepala. Dia sangat pintar, pintar dalam merebut hatiku tepatnya.
Smartphone ku berdenting, kudapati sebuah pesan didalamnya yang bertuliskan kau ingin mengajakku menghadiri sebuah undangan pesta tanggal 18 di bulan Mei.
Malam itu kau menjemput ku seperti biasa, yang tidak biasa hanya kecerewetan mu. Kau menanyakan banyak hal, apa aku cocok dengan ini ? apa aku sudah kelihatan rapi ? apa sepatu ini tidak kelihatan aneh aku pakai ?. Kau menanyakan yang jawabanya sudah sangat jelas, kau tau aku sangat menyukai lelaki dengan denim berkerah dan berlengan panjang yang sedikit di tekuk, celana chino warna cream dengan jam tangan dan sepatu boots coklat sawo matang. Ahh. . malam itu kita memang sepasang kekasih yang begitu sempurna. Kau bilang aku sangat manis dengan make up tipis, rok cream panjang berlayer dengan ikat pinggang kecil warna senada, atasan sifon pink yg kau bilang tampak calm dan wedges dengan tinggi 7cm yang membuatku terlihat tinggi. Aku begitu beruntung memilikimu, berjalan bergandengan di sisimu sambil kau perkenalkan aku sebagai kekasih hatimu pada sebagian kawan-kawanmu. Tak lupa pula menyempatkan waktu membingkai separuh kenangan kita pada sebuah foto. Malam itu benar-benar nyaris tanpa celah, benar-benar sempurna nampaknya. Hanya sedikit kejadian kecil yang sangat memalukan, aku terjatuh ketika menuruni tangga baris ke-2, membuatku pusing kemudian tak sadarkan diri. Aku menyesali kejadian malam itu karena terbangun dan mendapati aku terjatuh dari tempat tidur dan segala yang terjadi hanyalah mimpi manis yang teramat keterlaluan.
Mimpi itu sangat pantas ku sebut keterlaluan karena bukankah sangat menyinggung ketika faktanya aku memang sedang tidak memiliki kekasih. Hanya sebagian kecil yang benar, yaitu undangan promnite bekas sekolahku dulu di tanggal 18 bulan Mei dari seorang kawanku.
Ohh ya. . saranku di paragraf pertama tadi sebaiknya diganti dengan secangkir kopi hangat mengingat cuaca sedang tidak bersahabat akhir-akhir ini.
Terimakasih, sekian ceritaku.
-PalupiLaras-
Engkaulah orang dengan tangan bagai malaikat, setiap hari ku kecup dan kusampaikan salam kemudian berlalu pergi dari tempatmu berdiri. Begitulah setiap hari selama belasan tahun hidup bersamamu. .
Engkaulah yang setiap hari menyambut ku dengan senyum dibalik pintu kayu, tepat setelah ku ketuk-ketukan jemariku. Ibu. . andaikan jarak bukanlah penghalang, kebiasaan itu tak akan pernah hilang.
Ibu sayalah orang paling beruntung di bumi ini, engkau dekap dalam rahim benteng nan kokoh tiada tertanding. Engkau jejali hari-hariku dalam rahim dengan doa penuh harap tanpa banding.
Ibu terimakasih atas segala yang kau beri hingga tak mungkin ku sebut satu demi satu. Atas jasa yang tak bisa ku balas walau senyum telah berhasil ku ukir pada seraut wajah malaikatmu.
Maaf Ibu, sepucuk surat kecil ini. . harusnya ku kirim padamu tepat setelah tanda titik. Tapi aku tak seberani dahulu saat usiaku masih tujuh. Saat kubisikkan kata “AKU SAYANG IBUK”
-PalupiLaras-
Untuk Ibuk. Selamat hari Kartini, SAYA SANGAT MENCINTAIMU meski tak dapat menandingimu :*
Sebut saja aku violet, lahir dari merah dan biru. Merah adalah ambisi dimana isinya identik dengan negatif dan biru adalah ketentraman yang isinya membawa kedamaian. Aku ialah violet dengan dua sisi manusia yang terus berdampingan, baik dan buruk.
Aku violet serupa besi dan batu,banyak diam, kaku dan semauku. Tak sudi membagi rindu hanya membebankannya pada pundak ku, rindu cukuplah milik ku sampai saat nanti aku bagi padamu. Padamu : Entah siapa
Sekian suratku, semoga bahagia dalam hidupmu dan hidupku.
-PalupiLaras-
Bukankah diam menjadi satu-satunya jalan dan tempat ternyaman bagi seseorang yang hanya percaya pada Tuhan dan keluarganya. Seseorang yang terlampau sering diterbangkan bagai dandelion kemudian dihempaskan menghujam hingga inti bumi. Nyatanya mempercayai seseorang tidaklah semudah dulu, ada begitu banyak masa lalu ikut meracuni sebagian pikiran lewat celah-celah mimpi. Memang begitu kan manusia tak pernah berjalan tanpa menoleh pada spion masa lalu ?
Sayang kau tak berada di dekatku untuk melihat betapa berhati-hatinya aku meletakkan hati. Meletakkan pada seseorang yang kupercaya untuk menjaganya. Ini bukan tentang sepucuk surat sedih yang isinya tentang kupu-kupu yang ditinggal terbang sang dandelion, ini tentang sedikit cerita ketika aku mulai membangun perlahan sebuah benteng kepercayaan.
Di waktu nanti aku berjanji akan mempercayakannya pada seseorang yang tepat dan mungkin seseorang yang hampir sama seperti ku, tidak membiarkan repihan masa lalu terbawa bersama masa depannya. Dia dan aku akan berjumpa dimana masa adalah milik kami dan bukan lagi milik lelaki di masa lalu ku atau wanita di masa lalunya.
Di penjuru kedai ini kusaksikan kebisuan pada bangku-bangku senada
Warna coklat pastel dengan lekukan yang sederhana
Di depannya meja sewarna kaku dengan kuatnya
Ku nikmati kefokuskan ku pada satu sudut kedai
Hujan sore ini begitu dingin membalut ujung-ujung jemari
Ku sesapi kopi pesananku yang baru tersaji
Di dalamnya ada rasa manis dan pahit yang lebih menyeruak
Dengan molekul kehangatan hingga mengusir kebekuan
Di sudut lain sepasang sejoli sanggup menyita kedua bola mataku
Tangan mereka berpagut di bawah sebuah meja
Bercengkrama tertawa begitu manja
ohh itukah cinta?
Begitu hangat nampaknya
Aku yang sendiri justru bermanja pada segelas kopi
Yang jelas-jelas hanya manis pahit dan hangat
Di dalamnya tak ada sayang apa lagi cinta
Aku masih saja diam dalam kebekuan
Secangkir tadi telah kehilangan molekul kehangatan
dan ku langkahkan kaki pergi dari keterpakuan
Menikmati kembali harapan serta impian
-PalupiLaras-